Daftar SPMB Sekarang Masuk

© 2026 Qurrota A'yun

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Ketika Iman Melahirkan Pengorbanan, dan Keteladanan
Siroh

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Ketika Iman Melahirkan Pengorbanan, dan Keteladanan

FHN
Fauzal Habib Nasution., B.A.,M.S.I
Penulis
6 menit baca

Mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah ﷺ yang dikenal karena keteguhan iman, kejujuran, kesetiaan, dan pengorbanannya. Pelajari kisah dan tiga teladan penting Abu Bakar yang relevan bagi generasi Muslim.

Mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay al-Qurasyi at-Taimi, nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Murrah bin Ka’ab. Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah.

Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Diriwayatkan dari asy-Sya'bi, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Abbas, 'Siapakah orang yang pertama kali masuk Islam?' Beliau menjawab: 'Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian beliau berkata: 'Apakah engkau tidak mendengar syair Hassan bin Tsabit:

إِذَا تَذَكَّرْتَ شَجْوًا مِنْ أَخِي ثِقَةٍ ... فَاذْكُرْ أَخَاكَ أَبَا بَكْرٍ بِمَا فَعَلَا

Jika engkau mengingat duka atas hilangnya seorang saudara yang terpercaya... maka ingatlah saudaramu, Abu Bakar, atas apa yang telah ia perbuat.

خَيْرُ الْبَرِيَّةِ أَتْقَاهَا وَأَعْدَلُهَا ... بَعْدَ النَّبِيِّ، وَأَوْفَاهَا بِمَا حِمَلَا

Manusia terbaik, yang paling bertakwa dan paling adil... setelah Nabi, serta yang paling menepati janji atas beban yang dipikulnya.

الثَّانِيَ التَّالِيَ الْمَحْمُودُ مَشْهَدُهُ ... وَأَوَّلُ النَّاسِ مِنْهُمْ صَدَّقَ الرُّسُلَا

Orang kedua yang menyertai (Nabi), yang terpuji kesaksian/perjuangannya... dan manusia pertama di antara mereka yang membenarkan para Rasul.

Dan Rabiah bin Abi Abdurrahman serta Shalih bin Kaisan berkata: “Orang laki-laki dewasa yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar.”

1.    Abu Bakar sudah dijamin masuk Surga

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi didalam Kitab Jami’nya. Aisyah RadhiyaAllahu ‘Anha berkata,

أنَّ أبا بَكْرٍ ، دخلَ على رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ: أنتَ عتيقُ اللَّهِ منَ النَّارِ فيومئذٍ سُمِّيَ عتيقًا

Bahwasanya Abu Bakar pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: 'Engkau adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka.' Maka sejak hari itulah ia dinamakan Atiq (yang dibebaskan).

2.    Digelari Ash-Shiddiq

Saat Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj kepada kaumnya, beragamlah reaksi yang Nabi terima. Ada yang semakin mendustakannya, semakin menyakitinya, semakin melecehkannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang reaksi mereka setelah mendengar hal tersebut, “Ada yang bertepuk tangan, ada juga yang meletakkan tangannya di kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya”. Tetapi berbeda dengan Abu Bakar sebagaimana seperti yang disampaikan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahawasanya sebagian orang mendatangi Abu Bakar seraya berkata,

هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ يَزْعَمُ أَسْرَى بِهِ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ ؟

“Apakah engkau mengetahui kalau temanmu mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis?”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya,

أَوْ قَالَ ذَلِكَ ؟

“Apakah ia mengatakan seperti itu?” “Iya”, jawabnya.

Abu Bakar berkata,

لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

“Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar.”

Mereka berkata,

أَوْ تُصَدِّقُهُ أَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ وَ جَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ؟

“Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya?”

Abu Bakar menjawab,

نَعَمْ إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ

“Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”

Aisyah mengatakan,

فَلِذَلِكَ سُمِّيَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ

“Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3:65.

3.    Sahabat yang paling berjasa dalam persahabatan dan harta

Dalam suatu momen, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengenang hal ini seraya berkata,

إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ

“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Disini bisa kita lihat bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan dua hal besar untuk membantu dakwah: dirinya sendiri dan hartanya. Abu bakar menemani Rasulullah saat hijrah ke Madinah. Perjalanan yang tak mudah tentunya, dibayang-bayangi pengejaran dari kafir quraisy hingga harus menepi di gua tsur. Soal harta, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga luar biasa. Ia menyedekahkan seluruh harta yang dimilikinya. Saat ditanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab,

أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku meninggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Tiga teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk Generasi

Pertama, Keteguhan keimanan dan keyakinan pada Allah. Salah satu gambaran paling kuat tergambar saat Abu Bakar menemani Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hijrah dan bersembunyi di Gua Tsur. Ketika orang-orang musyrik sudah mendekat, Abu Bakar sempat khawatir mereka akan ditemukan. Nabi menenangkannya,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Kedua, Kesetiaan dan kecintaan pada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam. Abu Bakar bukan sekadar orang yang membenarkan dakwah Nabi ﷺ secara lisan. Ia menjadi salah satu orang yang mendampingi, melindungi, dan berkorban bersama beliau. Kedekatan ini juga tercermin dalam banyak riwayat tentang keutamaan Abu Bakar. Para sahabat pada masa Nabi ﷺ sendiri menempatkan Abu Bakar sebagai orang yang paling utama di antara mereka, kemudian Umar dan Utsman.

Ketiga, Mendahulukan perintah Allah dari kepentingan pribadi. Dalam kasus Misthah bin Utsatsah, Abu Bakar sebelumnya biasa membantu Mistah secara finansial. Namun Mistah ikut terlibat dalam penyebaran berita bohong terhadap Aisyah رضي الله عنها. Abu Bakar kemudian bersumpah untuk tidak lagi membantunya. Lalu turun QS. an-Nur: 22, yang mengajarkan agar orang-orang yang memiliki kelebihan tidak berhenti memberikan bantuan kepada kerabat dan orang miskin, serta mendorong mereka untuk memaafkan. Abu Bakar kemudian kembali memberikan bantuan kepada Misthah.

Faidah

Abu Bakar Radhiyaallahu ‘Anhu mengajarkan bahwa nilai seorang hamba bermula dari iman yang teguh, hati yang hidup, dan pengorbanan yang besar. Jadilah orang yang senantiasa berusaha mengikuti kebenaran, mudah memaafkan, teguh keimanannya.

Ditulis di Pasar Rebo, Jakarta Timur

Carousel

Bagikan artikel ini

Diskusi

Tanya Jawab Artikel Ini

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk mengajukan pertanyaan.

Masuk untuk Bertanya
Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Sudah punya akun? Masuk untuk berkomentar dengan nama akun Anda.

Punya cerita untuk dibagikan?

Bergabunglah menjadi author dan terbitkan tulisan Anda di Qurrota A'yun.

💬 Tanya Dong!