Rumah, tanah, kendaraan, tabungan, dan usaha yang kita bangun bertahun-tahun tentu menjadi sesuatu yang berharga. Semuanya baik jika diperoleh dengan cara yang halal. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk kita persiapkan bagi anak-anak kita:
kesalehan yang menjadi teladan dan bekal bagi kehidupan mereka.
Kita takut anak-anak kita hidup miskin. Kita khawatir mereka kesulitan mencari pekerjaan atau tidak memiliki masa depan yang cerah. Namun, pernahkah kita takut mereka tumbuh dengan harta yang banyak, tetapi jauh dari Allah? Pernahkah kita khawatir mereka meninggalkan salat dan tidak mengenal agamanya sendiri?
Allah mengabadikan sebuah kisah yang patut kita renungkan dalam Surah Al-Kahfi, yaitu kisah dua anak yatim dan sebuah tembok yang hampir roboh.
Allah ﷻ berfirman:
فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ
“Maka keduanya berjalan, hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka tidak mau menjamu keduanya. Kemudian keduanya mendapati di sana sebuah dinding yang hampir roboh, lalu dia menegakkannya.”
(QS. Al-Kahfi: 77)
Nabi Musa ‘alaihissalam dan Khidir tiba di sebuah negeri. Keduanya meminta makanan kepada penduduknya, tetapi ditolak. Di tengah keadaan itu, Khidir justru memperbaiki tembok yang hampir roboh, tanpa meminta upah.
Nabi Musa pun mempertanyakan tindakan tersebut. Mengapa Khidir membantu penduduk yang bahkan tidak bersedia menjamu mereka?
Namun, di balik tembok itu tersimpan sebuah rahasia besar.
Khidir menjelaskan:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut, dan di bawahnya tersimpan harta bagi keduanya, sedangkan ayah mereka adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Perhatikan kalimat terakhir yang Allah sebutkan:
وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”
Allah menjelaskan bahwa tembok itu ditegakkan agar harta kedua anak yatim tersebut tetap terjaga sampai mereka dewasa. Dalam penjelasan tentang hikmah itu, Allah menyebutkan kesalehan ayah mereka.
Kita tidak mengetahui secara pasti siapa nama ayah tersebut atau seberapa besar amal kesalehannya. Namun, kisah ini mengajarkan bahwa kesalehan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan bahwa Allah mampu memberikan penjagaan serta kebaikan kepada hamba-Nya melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Sebagian penjelasan dalam kitab-kitab tafsir menyebutkan bahwa ayah tersebut merupakan leluhur kedua anak yatim itu. Namun, rincian tentang jumlah generasinya tidak ditetapkan secara pasti oleh Al-Qur’an maupun hadis sahih.
Karena itu, pelajaran terpenting dari kisah ini bukanlah memastikan berapa generasi yang memperoleh manfaat dari kesalehan sang ayah, melainkan merenungkan kedudukan kesalehan dalam kehidupan seorang mukmin dan keluarganya.
Kita tidak tahu amal mana yang diterima oleh Allah dan kebaikan mana yang kelak menjadi sebab datangnya keberkahan. Karena itu, teruslah beramal saleh dan jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang saleh, menjaga anak-anak dan keturunan kita, serta menganugerahkan kepada mereka iman, ketakwaan, dan kehidupan yang diridai-Nya. Āmīn.