Daftar SPMB Sekarang Masuk

© 2026 Qurrota A'yun

Kita Tinggalkan Banyak Kebaikan, Lalu Bertanya Kenapa Hidup Terasa Sempit?
Inspirasi

Kita Tinggalkan Banyak Kebaikan, Lalu Bertanya Kenapa Hidup Terasa Sempit?

RR
Rifqi Rashidi, Lc., M.Ag.
Penulis
3 menit baca

“Kenapa hidupku terasa sempit? Kenapa hati ini gelisah? Kenapa hidup rasanya berat sekali?” Allah ﷻ berfirman: وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Tidak membaca zikir pagi.
Tidak membaca zikir petang.
Sunnah-sunnah mulai ditinggalkan.
Doa semakin jarang dipanjatkan.
Majelis ilmu tidak lagi didatangi.
Zikir terasa asing.
Al-Qur’an jarang dibuka.
Qiyamul lail sudah lama ditinggalkan.

Lalu kita bertanya,

“Kenapa hidupku terasa sempit? Kenapa hati ini gelisah? Kenapa hidup rasanya berat sekali?”

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Perhatikanlah. Ketika Allah menjelaskan tentang ketenteraman hati, Allah mengarahkan kita kepada zikir dan mengingat-Nya.

Terkadang, kita begitu sibuk mencari ketenangan ke mana-mana, tetapi justru menjauh dari sumber ketenangan itu sendiri.

Kita ingin hati tenang, tetapi jarang berzikir.
Kita ingin hidup berkah, tetapi lalai mengingat Allah.
Kita ingin dikuatkan menghadapi ujian, tetapi justru menjauh dari ibadah yang menguatkan jiwa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dengan orang yang tidak mengingat Rabb-nya adalah seperti orang hidup dan orang mati.”

(HR. Bukhari, no. 6407)

Betapa besar perbedaan antara hati yang hidup dengan mengingat Allah dan hati yang lalai dari mengingat-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله juga memiliki perkataan yang sangat menyentuh:

الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلْسَّمَكِ

“Zikir bagi hati itu seperti air bagi ikan.”

Lalu beliau mengingatkan, bagaimana keadaan ikan jika berpisah dari air?

Perkataan ini dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wābil aṣ-Ṣayyib.

Memang, bukan berarti setiap kesulitan hidup terjadi karena kita meninggalkan ibadah. Para nabi dan orang-orang saleh pun diuji dengan kesulitan yang berat.

Namun, jangan sampai kelalaian kita sendiri membuat hati semakin jauh dari Allah, lalu kita heran mengapa hidup terasa kehilangan arah.

Mungkin yang perlu kita perbaiki bukan hanya keadaan di luar diri, tetapi juga hubungan kita dengan Allah.

Mulailah kembali, meski perlahan.

Jaga salat. Biasakan zikir pagi dan petang. Buka kembali Al-Qur’an. Luangkan waktu untuk berdoa dan duduk di majelis ilmu. Hidupkan kembali sunnah-sunnah yang mulai ditinggalkan.

Jika belum mampu melakukan semuanya, jangan jadikan itu alasan untuk tidak memulai satu pun.

Sebab kita tidak harus menunggu hidup menjadi lapang untuk kembali mengingat Allah.

Justru ketika hidup terasa sempit, bisa jadi itulah saatnya kita paling membutuhkan kedekatan dengan-Nya.

Semoga Allah menghidupkan hati kita dengan zikir, menerangi hati kita dengan Al-Qur’an, dan meneguhkan langkah kita dalam ketaatan kepada-Nya. آمين.

Bagikan artikel ini

Diskusi

Tanya Jawab Artikel Ini

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk mengajukan pertanyaan.

Masuk untuk Bertanya
Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Sudah punya akun? Masuk untuk berkomentar dengan nama akun Anda.

Punya cerita untuk dibagikan?

Bergabunglah menjadi author dan terbitkan tulisan Anda di Qurrota A'yun.

💬 Tanya Dong!