Karna Al Quran di turunkan untuk orang berakal, bukan sekedar di baca.
Allah ﷻ mengabadikan penyesalan penghuni neraka:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mau mendengar atau berpikir, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’”
(QS. Al-Mulk: 10)
Perhatikan dua kata dalam ayat ini:
نَسْمَعُ — kami mendengar
نَعْقِلُ — kami berpikir
Masalahnya bukan karena mereka tidak memiliki telinga atau akal. Namun, mereka tidak menggunakan pendengaran dan akal mereka untuk menerima serta mengikuti kebenaran.
Bukankah hal ini juga bisa terjadi pada kita?
Berapa banyak kajian yang kita dengar, tetapi tidak mengubah perilaku?
Berapa banyak ayat yang kita baca, tetapi tidak membuat kita memperbaiki diri?
Berapa banyak nasihat yang sampai ke telinga, tetapi berhenti di sana?
Telinga mendengar, tetapi hati tidak tergerak. Akal ada, tetapi tidak digunakan untuk merenungkan kebenaran.
Maka, jangan hanya bertanya:
“Sudah berapa banyak kajian yang saya dengar?”
Tetapi tanyakan juga:
“Berapa banyak kebenaran yang sudah saya dengarkan, saya renungkan, lalu saya amalkan?”
Sebab, ilmu bukan sekadar untuk menambah pengetahuan. Ia seharusnya menuntun kita kepada kebenaran dan mendorong kita untuk beramal.
Jangan sampai kita rajin mendengar nasihat, tetapi lalai memperbaiki diri.
Sebab yang bermanfaat bukan sekadar suara yang sampai ke telinga, melainkan kebenaran yang diterima, direnungkan, lalu diwujudkan dalam amal.