Kopi terasa nikmat karena kita meminumnya secangkir, bukan segalon.
Mie ayam terasa lezat karena disajikan semangkuk, bukan sebaskom.
Pelangi terlihat indah karena ia muncul sesaat, bukan menghiasi langit sepanjang hari.
Ternyata, tidak semua yang lebih banyak akan membuat kita lebih bahagia. Ada kenikmatan yang justru terasa nikmat karena memiliki batas.
Begitu juga dengan dunia.
Makan secukupnya. Belanja secukupnya. Bersenang-senang secukupnya. Bahkan terhadap sesuatu yang halal sekalipun, manusia tetap perlu mengenal batas.
Sebab ketika semua kenikmatan dituruti semaunya, sesuatu yang tadinya istimewa perlahan menjadi biasa. Ketika terus ditambah, ia tidak selalu menambah kebahagiaan. Bisa jadi justru melahirkan kebosanan, ketergantungan, bahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk mensyukurinya.
Karena itu, Allah tidak melarang kita menikmati karunia-Nya. Allah justru berfirman:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. al-A‘râf: 31)
Barangkali salah satu rahasia menikmati dunia memang bukan dengan mendapatkan sebanyak-banyaknya, tetapi dengan tahu kapan merasa cukup.
Sebab kebahagiaan tidak selalu datang ketika sesuatu ditambah. Terkadang ia justru hadir ketika keinginan dibatasi dan apa yang sudah ada benar-benar disyukuri.
Nikmati secukupnya, jangan semuanya dan semaunya. Karena sesuatu yang memiliki batas sering kali justru lebih terasa nikmat.