Dari Santri Nakal Menjadi Pengurus OSIS
Saya masuk pesantren karena "dibuang" orang tua yang sudah putus asa. Tiga tahun kemudian, saya memimpin organisasi santri.
Cerita perjuangan, pengalaman, dan prestasi para santri Qurrota A'yun.
Saya masuk pesantren karena "dibuang" orang tua yang sudah putus asa. Tiga tahun kemudian, saya memimpin organisasi santri.
Dua kali gagal, berkali-kali menangis latihan tengah malam. Akhirnya juara satu pidato bahasa Arab tingkat nasional.
Impian kuliah di Al-Azhar Mesir terwujud berkat fondasi bahasa Arab dan ilmu agama yang kuat dari pesantren.
Saya guru SD yang memutuskan mondok di usia 30 untuk memperdalam ilmu agama. Tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Hafidz 30 juz sekaligus lulus SNBT masuk FK Universitas Airlangga. Dua impian yang saya wujudkan bersamaan.
Saya datang dari desa kecil di Madura dengan modal nekat dan doa orang tua. Empat tahun kemudian, saya pulang sebagai hafidz 30 juz.
Di rumah semua dilayani asisten. Di pesantren saya harus cuci piring sendiri. Ternyata itulah pelajaran paling berharga.
Teman sekamar yang awalnya menjengkelkan kini menjadi saudara terbaik. Persahabatan di pesantren punya kualitas yang berbeda.