Daftar SPMB Sekarang Masuk

© 2026 Qurrota A'yun

Hakikat Seorang Penuntut Ilmu dan Seorang Faqih
Berita

Hakikat Seorang Penuntut Ilmu dan Seorang Faqih

RR
Rifqi Rashidi, Lc., M.Ag.
Penulis
3 menit baca
1x dibaca

Seseorang belum benar-benar layak disebut sebagai penuntut ilmu, hingga ia memiliki sifat-sifat yang terkandung dalam setiap huruf dari kata طَالِبٌ (Thālib).

فائدة: لا يكون الطالب طالبًا حقيقةً حتى تكون فيه معاني حروف

الطاء: طاهر من الأدناس، طيب الأنفاس.

اللام: لبيب في عقله، لذيذ في عشرته.

الباء: باكٍ على ذنبه، باحث عن نفعه.

والفقيه كذلك:

فالفاء: فاطن فاضل.

والقاف: قائم بحق الله وبحق الناس.

والهاء: هارب من معصية الله ومن الناس.

وإلا فهو سفيه لا فقيه.

Sebuah faedah:

Seseorang belum benar-benar layak disebut sebagai penuntut ilmu, hingga ia memiliki sifat-sifat yang terkandung dalam setiap huruf dari kata طَالِبٌ (Thālib).

- Huruf Ṭā' (ط): طاهر من الأدناس، طيب الأنفاس

Bersih dari segala kotoran, baik kotoran lahir maupun batin, serta memiliki jiwa dan perangai yang baik.

- Huruf Lām (ل): لبيب في عقله، لذيذ في عشرته

Cerdas akalnya dan menyenangkan dalam pergaulannya.

- Huruf Bā' (ب): باكٍ على ذنبه، باحث عن نفعه

Senantiasa menangisi dan menyesali dosa-dosanya, serta selalu berusaha mencari hal-hal yang bermanfaat.

Demikian pula seorang faqih (orang yang mendalam pemahamannya terhadap agama).

Setiap huruf dalam kata فَقِيهٌ (Faqīh) juga mengandung sifat-sifat yang semestinya dimiliki:

- Huruf Fā' (ف): فاطن فاضل

Cerdas, tajam pemahamannya, dan memiliki keutamaan akhlak.

- Huruf Qāf (ق): قائم بحق الله وبحق الناس

Senantiasa menegakkan hak Allah dan menunaikan hak-hak sesama manusia.

- Huruf Hā' (ه): هارب من معصية الله ومن الناس

Menjauhkan diri dari kemaksiatan kepada Allah dan menjauhi manusia (dalam konteks menghindari keburukan dan perkara yang melalaikan).

Jika tidak demikian, maka ia hanyalah seorang yang safīh (dungu), bukan seorang faqīh (orang yang benar-benar memahami agama).

Nasihat ini mengingatkan kita bahwa menjadi penuntut ilmu bukan sekadar mengumpulkan hafalan, memperbanyak catatan, atau menguasai berbagai disiplin keilmuan.

Ilmu seharusnya membentuk pribadi seseorang. Semakin seseorang menuntut ilmu, semestinya semakin bersih hatinya, semakin baik akhlaknya, semakin besar penyesalannya atas dosa, dan semakin kuat kepeduliannya terhadap hak Allah serta hak sesama manusia.

Tulisan ini dikutip dari unggahan Telegram Syaikh Dr. Fahd al-Bahri semoga allah menjaga beliau.

Bagikan artikel ini

Diskusi

Tanya Jawab Artikel Ini

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk mengajukan pertanyaan.

Masuk untuk Bertanya
Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Sudah punya akun? Masuk untuk berkomentar dengan nama akun Anda.

Punya cerita untuk dibagikan?

Bergabunglah menjadi author dan terbitkan tulisan Anda di Qurrota A'yun.

💬 Tanya Dong!