Daftar SPMB Sekarang Masuk

© 2026 Qurrota A'yun

Bercita-cita Tinggi, tetapi Tahu Diri: Pelajaran dari Segelas Zamzam
Kaidah Islami

Bercita-cita Tinggi, tetapi Tahu Diri: Pelajaran dari Segelas Zamzam

ZSA
Zaidan Salman Alfarisiy
Penulis
2 menit baca

Ketika berhaji, Imam al-Suyûthî meminum Zamzam sambil diniatkan untuk bisa mencapai level Imam Ibn Hajar al-'Asqalânî—guru dari guru-gurunya—dalam hadis, serta level Imam al-Bulqînî dalam fikih, yang merupakan guru Ibn Hajar. Demikian juga Ibn Hajar. Beliau meminum Zamzam sambil berniat agar dapat

Ada satu sisi menarik dari kisah para ulama yang mungkin sering terlewat ketika kita membaca biografi mereka. Bukan tentang seberapa banyak kitab yang mereka tulis, seberapa luas ilmu yang mereka kuasai, atau seberapa banyak murid yang mereka lahirkan. Tetapi tentang bagaimana mereka menentukan ingin menjadi seperti siapa.

Sebab ternyata, memilih sosok yang ingin kita kejar levelnya pun bukan perkara sederhana. Di sana ada cita-cita, ada perhitungan terhadap kenyataan, ada pemilihan teladan, dan—yang tidak kalah penting—ada adab.

Salah satu pelajaran menarik tentang hal itu dapat kita lihat dari Imam al-Suyûthî dan Ibn Hajar al-'Asqalânî.

Ketika berhaji, Imam al-Suyûthî meminum Zamzam sambil diniatkan untuk bisa mencapai level Imam Ibn Hajar al-'Asqalânî—guru dari guru-gurunya—dalam hadis, serta level Imam al-Bulqînî dalam fikih, yang merupakan guru Ibn Hajar.

Demikian juga Ibn Hajar. Beliau meminum Zamzam sambil berniat agar dapat mencapai level Imam al-Dzahabî, guru dari al-Bulqînî.

Tentu saja fakta membuktikan bahwa keduanya mendapatkan apa yang mereka niatkan, bahkan lebih tinggi lagi sebagai fadhl dari Allah. Namun bukan itu poin utamanya. Sebab kita semua tahu bahwa berdoa ketika meminum Zamzam merupakan salah satu momentum yang diharapkan terkabulnya doa.

Yang menarik justru mengapa mereka memilih level orang-orang tersebut?

Setidaknya ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil.

Pertama, menyelaraskan tingginya harapan dengan kenyataan.

Kenapa al-Suyûthî tidak sekalian meminta agar mencapai level Imam al-Syafi'î? Bukankah kalau berdoa kepada Allah, sekalian saja meminta setinggi-tingginya?

Di sinilah menariknya. Beliau seakan mengajarkan bahwa melangitkan harapan tetap perlu didahului dengan memetakan tujuan. Dengan begitu, doa menjadi afirmasi positif yang meneguhkan perjalanan, bukan sekadar angan-angan yang justru membuka jurang antara harapan dan kenyataan.

Kenyataan kehidupan generasi salaf sudah sangat jauh dibandingkan zaman beliau, apalagi dibandingkan zaman kita. Secara syariat tentu tidak ada larangan meminta kepada Allah untuk mencapai derajat setinggi apa pun. Namun cita-cita juga perlu memiliki jalan yang mungkin ditempuh. Doa bukan alasan untuk meninggalkan pembacaan yang jernih terhadap kemampuan diri, zaman, lingkungan, serta tahapan yang harus dilalui.

Kedua, memilih teladan dari mereka yang telah menyelesaikan perjalanan.

Kalau begitu, kenapa tidak memilih untuk mencapai level gurunya sendiri? Bukankah itu jauh lebih dekat dan lebih nyata?

Di sini beliau seperti mengamalkan nasihat Ibn Mas'ûd agar mengambil teladan dari orang yang telah wafat, sebab orang yang masih hidup belum aman dari fitnah.

Ketika mereka berhaji, kemungkinan besar masih ada guru-guru ternama mereka yang hidup. Namun orang yang masih hidup masih menjalani perjalanan. Kita belum mengetahui bagaimana akhirnya. Adapun orang yang telah wafat dalam kebaikan, perjalanan hidupnya telah selesai sehingga gambaran tentang keteladanannya menjadi lebih utuh.

Ini pelajaran penting dalam memilih figur. Kekaguman jangan sampai membuat kita terlalu cepat menganggap seseorang sebagai standar akhir, padahal perjalanan orang tersebut sendiri belum selesai.

Ketiga, menjaga adab seorang murid kepada gurunya.

Ada sesuatu yang sangat halus di sini. Keinginan untuk menjadi selevel dengan guru sendiri dapat membuka celah bagi perasaan tinggi hati, terlebih apabila suatu hari keinginan tersebut benar-benar menjadi kenyataan.

Karena itu, mereka memilih sosok dari generasi di atas gurunya sebagai tujuan. Cita-citanya tetap tinggi, bahkan sangat tinggi, tetapi hubungan batinnya dengan sang guru tetap terjaga.

Seolah mereka hendak mengatakan: aku ingin tumbuh setinggi mungkin, tetapi aku tidak perlu menjadikan guruku sebagai orang yang harus aku lampaui.

Di sinilah ambisi keilmuan bertemu dengan adab.

Maka, kisah tentang segelas Zamzam ini pada akhirnya bukan hanya kisah tentang kemustajaban doa. Ia adalah pelajaran tentang cara menyusun cita-cita.

Cita-cita harus cukup tinggi untuk membuat kita terus berjalan, tetapi cukup nyata untuk memberi kita arah. Teladan harus cukup agung untuk menarik kita ke atas, tetapi dipilih dengan kebijaksanaan. Dan ketika suatu hari Allah benar-benar memberikan pencapaian yang tinggi, ilmu itu tidak boleh membuat kita kehilangan adab kepada orang-orang yang dahulu menunjukkan jalannya.

Sebab menjadi besar bukan hanya soal berhasil mencapai ketinggian yang pernah kita impikan. Ada yang jauh lebih sulit: ketika sudah sampai di atas, kita masih tahu bagaimana caranya menundukkan kepala.

Bagikan artikel ini

Diskusi

Tanya Jawab Artikel Ini

Anda harus masuk terlebih dahulu untuk mengajukan pertanyaan.

Masuk untuk Bertanya
Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Sudah punya akun? Masuk untuk berkomentar dengan nama akun Anda.

Punya cerita untuk dibagikan?

Bergabunglah menjadi author dan terbitkan tulisan Anda di Qurrota A'yun.

💬 Tanya Dong!