Ada banyak hal dalam hidup yang baru terasa sebagai nikmat setelah ia tidak lagi kita miliki.
Kita mengeluh karena lelah bekerja, padahal di balik lelah itu ada nikmat pekerjaan dan penghasilan.
Kita mengeluh karena harus terus membereskan rumah, padahal ada orang yang sedang berharap memiliki tempat untuk pulang.
Kita merasa terganggu dengan suara anak-anak yang berisik, padahal suara itu adalah tanda bahwa mereka sehat dan masih berada di sisi kita.
Kita kesal dengan pasangan yang cerewet, padahal di baliknya ada nikmat memiliki seseorang yang menemani perjalanan hidup.
Bahkan terkadang kita mengeluhkan tubuh yang pegal karena aktivitas, lalu baru menyadari betapa berharganya tubuh yang bisa bergerak ketika sakit datang membatasi segalanya.
Memang, mengeluh adalah bagian dari kelemahan manusia. Allah berfirman:
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat halû‘ (berkeluh kesah).”
(QS. al-Ma‘ârij: 19)
Karena itu, sebelum mengeluhkan sesuatu, sesekali berhentilah dan lihat kembali: jangan-jangan yang sedang kita keluhkan sebenarnya adalah nikmat yang sedang Allah titipkan.
Bukan berarti kita tidak boleh merasa lelah, sedih, atau jenuh. Namun jangan sampai keluhan membuat kita buta terhadap nikmat yang menyertainya.
Sebab ada hal-hal yang hari ini terasa melelahkan, tetapi ketika Allah mengambilnya, justru itulah yang paling ingin kita dapatkan kembali.
Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan menunggu nikmat menjadi kenangan untuk mulai bersyukur.